Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

Audit Reformasi: Menggugat Pengkhianatan Mandat 1998

 



DESKRIPSI BUKU

  • Judul: AUDIT REFORMASI: Menggugat Pengkhianatan Mandat 1998
  • Sub-judul: Menakar Runtuhnya Pilar Demokrasi dan Kebangkitan Gurita Oligarki
  • Penulis: Abdurrachman Al Hakim
  • Tebal: 357 Halaman

"Buku ini bukan sekadar catatan sejarah; ia adalah sebuah surat dakwaan bagi mereka yang membajak kedaulatan rakyat."

Dua puluh delapan tahun berlalu sejak mahasiswa menduduki atap Senayan dan menumbangkan diktator tertua di Asia Tenggara. Namun, alih-alih merayakan kemajuan demokrasi, kita hari ini justru terbangun dalam sebuah realitas yang ganjil. Melalui buku setebal 383 halaman ini, Abdurrachman Al Hakim—salah seorang aktor di balik peristiwa Mandat Ciumbuleuit 1994—melakukan "audit forensik" terhadap perjalanan bangsa Indonesia dari tahun 1990 hingga proyeksi 2026.

Mengapa Anda Harus Membaca Buku Ini?

Membongkar Akar yang Terlupakan: Penulis membawa pembaca kembali ke tahun 1994, ke sebuah ruang kerja Menhankam di mana "Diplomasi Persib" menjadi jembatan antara mahasiswa dan faksi militer profesional dalam merancang kerangka awal jatuhnya Orde Baru.

Analisis Faksi Kekuasaan: Menelusuri rivalitas "Dua Matahari" di tubuh ABRI yang menentukan arah suksesi kepemimpinan nasional, serta bagaimana politik identitas mulai digunakan sebagai instrumen penjinakan militer.

Audit Tajam Era Kontemporer: Buku ini secara berani membedah kondisi Indonesia hari ini—dari rekayasa konstitusi yang melegalkan politik dinasti, pelemahan institusi anti-korupsi, hingga bangkitnya gurita oligarki yang kini mengendalikan regulasi layaknya perusahaan pribadi.

Manifesto Pemulihan: Tidak hanya mengkritik, buku ini diakhiri dengan sebuah "Manifesto Jilid II" yang menawarkan solusi radikal: restorasi konstitusi, pemiskinan koruptor melalui UU Perampasan Aset, hingga reformasi total sistem kepartaian.

Struktur Buku:

Naskah ini disusun secara sistematis ke dalam lima bagian besar:

  • Bagian I: Penyemaian benih perlawanan intelektual di Bandung.
  • Bagian II: Operasi sabotase demokrasi dan kemunculan gurita bisnis dinasti.
  • Bagian III: Titik didih krisis 1998, tragedi darah, dan runtuhnya "Pohon Cendana".
  • Bagian IV: Masa transisi yang rapuh di bawah kepemimpinan Habibie hingga Gus Dur.
  • Bagian V: Audit kritis terhadap regresi demokrasi dan kebangkitan "Neo-Orde Baru" di era modern.

Target Pembaca:

Buku ini adalah bacaan wajib bagi akademisi, aktivis, mahasiswa, dan seluruh rakyat Indonesia yang menolak untuk menutup mata terhadap pengkhianatan mandat rakyat. Sebuah panggilan untuk merebut kembali kompas bangsa sebelum fajar demokrasi benar-benar padam oleh kegelapan oligarki.

"Sebab, kedaulatan rakyat tidak boleh berhenti di kotak suara; ia harus terus diaudit agar tidak berakhir di tangan para pengkhianat."

Tidak ada komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.