Pajajaran di Tengah Badai Sejarah: Menelusuri Jejak Prabu Siliwangi dslsm Arus Perubahan Nusantara (1482-1579)
"Sebuah imperium tidak pernah benar-benar runtuh selama marwahnya tetap dijaga."
Tahun 1482, di bawah naungan Sri Baduga Maharaja, Pakuan Pajajaran berdiri sebagai mercusuar peradaban di Barat Jawa. Namun, sejarah tidak pernah membiarkan kejayaan berada dalam keheningan. Di ufuk utara, panji-panji kekuatan baru mulai berkibar, sementara di cakrawala laut, meriam-meriam Portugis membawa aroma mesiu yang asing.
Buku ini merupakan penelusuran mendalam terhadap satu abad paling menentukan dalam eksistensi Kerajaan Sunda. Melalui narasi yang tajam dan empatik, Sri Endang Susetiawati membedah bagaimana Pajajaran menghadapi "badai" geopolitik yang datang bertubi-tubi. Dari ruang-ruang diplomasi yang tegang di Sunda Kelapa hingga lima belas palagan berdarah yang dipimpin Prabu Surawisesa demi mempertahankan setiap jengkal tanah leluhur.
Lebih dari sekadar catatan keruntuhan, buku ini adalah kesaksian tentang ketangguhan. Di saat benteng-benteng batu mulai luruh, ada mahkota yang dilarikan menembus kabut gunung demi menjaga nyawa sebuah bangsa.
Temukan jawaban di balik teka-teki sejarah:
- Bagaimana strategi Prabu Siliwangi membangun fondasi pertahanan nasional?
- Mengapa diplomasi dengan Portugis menjadi buah simalakama bagi kedaulatan Sunda?
- Bagaimana "Ruh Pajajaran" tetap hidup dan bertransformasi menjadi identitas yang abadi meski istananya telah tiada?






Tidak ada komentar
Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).