Masih Perlukah HMI?
PROLOG
"MENAGIH JANJI SUCI: APAPUN YANG TERSISA DARI HIJAU-HITAM"
"Setiap generasi memiliki tugas sejarahnya masing-masing. Namun, tragedi terbesar sebuah organisasi adalah ketika ia terus merayakan masa lalu, sementara tubuhnya hari ini telah menjadi bangkai yang membusuk di tengah zaman yang melaju pesat."
Mitos Kebesaran dan Hantu Masa Lalu
Di ruang-ruang diskusi yang pengap, di warkop-warkop yang riuh oleh asap rokok dan retorika usang, nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) masih digaungkan dengan nada penuh kebanggaan. Cerita tentang Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Agussalim Sitompul, hingga sederet menteri, politisi, dan akademisi kondang kerap diulang-ulang layaknya mantra sakral. HMI dipuji sebagai "rahim peradaban", "pencetak kader intelektual", dan "pilar penyangga kebangsaan".
Namun, di luar ruang-ruang nostalgia itu, dunia telah berubah secara drastis. Era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), disrupsi teknologi, kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, dan krisis ekologis tengah mencekik masyarakat. Di hadapan realitas yang serba cepat dan menuntut solusi konkret ini, sebuah pertanyaan radikal yang menyengat harus berani dilontarkan tanpa rasa sungkan:
Masih perlukah HMI ada hari ini? Atau, jangan-jangan, tugas sejarah HMI sebenarnya sudah tamat?
Ketika Lafran Pane dan kawan-kawan mendirikan HMI pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta, organisasi ini lahir dari dua cita-cita suci yang membakar dada: pertama, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia; second, memajukan dan menyiarkan agama Islam. Komitmen ini dirumuskan secara jernih dalam kualifikasi "Insan Cita"—terwujudnya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Pertanyaannya: apakah dua misi suci dan marwah Insan Cita itu masih menjadi concern utama dan napas perjuangan dari jutaan anggota keluarga besar HMI hari ini? Atau, apakah semua rumusan Indah dalam Nilai-Nilai Dasar HMI (NDH) itu kini tak lebih dari sekadar dogma mati yang dihafalkan saat Basic Training (LK-1), lalu dicampakkan begitu saja ketika kader mulai mencicipi manisnya akses kekuasaan?
Dari Rahim Peradaban Menjadi Industri Pragmatisme
Jujur saja, publik hari ini mulai melihat wajah HMI dengan nada skeptis, bahkan muak. Klaim sebagai "pencetak kader intelektual" semakin hari semakin menjadi lelucon yang tak lucu. Intelektual macam apa yang dilahirkan ketika forum-forum diskursus organisasi terisolasi di menara gading, miskin riset, ketiadaan karya ilmiah bereputasi, dan gagap membaca arah peradaban digital?
Intelektualitas di HMI kerap mengalami pendangkalan parah: ia direduksi menjadi kepiawaian berorasi dengan bahasa langit, kelihaian bersilat lidah di forum sidang, dan kemampuan menyusun taktik intrik internal. Kader tidak lagi dilatih untuk menjadi problem solver atas masalah kemiskinan rakyat, tetapi dilatih untuk menjadi pakar lobi yang lihai mengamankan kepentingan kelompok.
HMI hari ini tampak lebih mirip sebuah pabrik kader pragmatis tanpa nilai, tanpa gagasan, dan tanpa arah. Ekosistem perkaderan yang dulunya dingin oleh tradisi pemikiran, kini berubah hangat oleh transaksi kepentingan. Lulusan-lulusannya tidak lagi berambisi menciptakan karya, mendirikan laboratorium inovasi, atau mendampingi masyarakat adat dan buruh yang tertindas. Ambisi terbesar sebagian besar kadernya kini telah menyempit secara tragis: bagaimana caranya mendekat ke Korps Alumni HMI (KAHMI), menjadi underboss politisi, masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, dan mendapatkan bagian dari rente politik.
Lebih mengerikan lagi, publik menyaksikan bagaimana keterampilan berorganisasi yang diajarkan di HMI justru menjelma menjadi "sekolah magang" bagi calon koruptor politik. Musyawarah Cabang hingga Kongres nasional tak ubahnya miniatur Pemilu yang sarat dengan money politics, politisasi dinasti, dan komodifikasi suara. Ketika kultur kompromi jahat dan transaksi nilai telah diwajarkan sejak mahasiswa, maka jangan heran jika ketika memegang jabatan publik, alumni-alumni tersebut dengan sangat natural menjadi pelaku korupsi yang ulung.
Membumi atau Punah!
Di manakah HMI ketika ketidakadilan hukum merajalela? Di manakah suara HMI ketika korupsi menggerogoti uang rakyat, ketimpangan ekonomi makin melarutkan kesejahteraan umat, dan masa depan generasi muda terancam oleh kemiskinan sistematis?
HMI sering kali absen di akar rumput. Kalaupun ada aksi di jalanan, masyarakat kerap bertanya-tanya dengan nada curiga: Apakah aksi ini murni suara nurani mahasiswa, ataukah sekadar demonstrasi "orderan" untuk menaikkan posisi tawar dalam pembagian kue kekuasaan?
Organisasi ini sedang mengidap penyakit pembusukan dari dalam (institutional decay). Jika HMI hanya berdiri sebagai alat legitimasi politik elite, tempat berkumpulnya para pemuda yang berburu jabatan, dan wadah penyumbang kemudharatan sosial bagi bangsa, maka keberadaan HMI tidak lagi sekadar tidak relevan—ia telah menjadi beban sejarah yang merugikan umat dan rakyat.
Buku ini tidak ditulis atas dasar kebencian, melainkan lahir dari kegelisahan mendalam dan panggilan moral untuk melontarkan kritik keras yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Buku ini hadir untuk membedah anatomi krisis HMI secara jujur, menelanjangi penyakit pragmatisme yang menggerogoti tubuhnya, dan menagih janji suci pembentukan Insan Cita.
Buku ini menyodorkan cermin retak di hadapan seluruh keluarga besar HMI: apakah kalian berani melakukan pembongkaran total (reformasi radikal) agar organisasi ini kembali membumi dan memberi manfaat nyata? Atau, apakah kalian akan membiarkan HMI mati secara perlahan, terkubur bersama nostalgia kejayaannya sendiri?
Pilihan ada di tangan kita: Re-artikulasi total, atau biarkan tugas sejarah HMI tamat untuk selamanya!






Tidak ada komentar
Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).