Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

Novel Sejarah Darah di Bubat: Cinta, Ambisi dan Takdir Nusantara

 



Kisah ini dibuka di Keraton Trowulan, pusat kemegahan Majapahit, di mana Maharaja Hayam Wuruk memutuskan untuk meminang putri dari Kerajaan Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi. Pinangan ini bukan sekadar urusan hati, melainkan sebuah langkah diplomatik besar yang diharapkan mampu menyatukan Jawa tanpa melalui peperangan. Di Kawali, pusat kekuasaan Galuh, Prabu Linggabuana menerima pinangan tersebut dengan niat tulus demi persaudaraan dan perdamaian di tanah Jawa.

Namun, visi perdamaian ini bertabrakan dengan ambisi dingin Mahapatih Gajah Mada. Sang Mahapatih, yang terikat pada Sumpah Palapa, melihat kedatangan rombongan Galuh bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai tanda tunduknya kerajaan terakhir di Jawa yang belum sepenuhnya berada di bawah kendali Majapahit. Tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk, Gajah Mada mengubah protokol penyambutan menjadi jebakan militer di Lapangan Bubat.

Rombongan Galuh menempuh perjalanan berat melalui jalur darat menuju Sungai Cimanuk, lalu berlayar menyusuri Laut Jawa. Setibanya di muara Brantas dan mendarat di Canggu, mereka mulai mencium aroma keganjilan. Alih-alih sambutan meriah, mereka justru digiring ke sebuah pesanggrahan di lapangan terbuka yang dikepung oleh pasukan Bhayangkara.

Puncaknya terjadi ketika Patih Madhu, utusan Gajah Mada, menuntut agar Pitaloka diserahkan sebagai upeti, bukan sebagai permaisuri. Penghinaan ini memicu kemarahan Prabu Linggabuana. Dengan jumlah pasukan yang tak seimbang, ksatria Galuh melakukan aksi Amuk demi mempertahankan martabat. Pertempuran berdarah pecah; Linggabuana gugur, dan Dyah Pitaloka memilih melakukan ritual Bela—menghujamkan keris ke ulu hatinya sendiri daripada menjadi tawanan.

Hayam Wuruk tiba di lokasi hanya untuk menemukan cintanya telah menjadi mayat. Tragedi ini menghancurkan hubungan sang Raja dengan Gajah Mada, yang kemudian memilih menyepi hingga moksa di Madakaripura. Sementara itu, satu-satunya pewaris Galuh yang selamat, Niskala Wastu Kancana, membawa pulang abu jenazah keluarganya ke Kawali, mengukir dendam sejarah dan sumpah larangan pernikahan antara Sunda dan Jawa yang terus bergema hingga berabad-abad kemudian, diperparah oleh intrik kolonial Belanda yang sengaja memelihara luka tersebut.


Judul Novel: Darah di Bubat: Cinta, Ambisi dan Takdir Nusantara
Genre: Roman Sejarah

Penulis: Sri Endang Susetiawati
Penerbit: Srie Digital Media

Ukuran buku: A5 (14,8 x 21 cm)
Kertas: Bookpaper 55

Cover: Softcover Glossy
Halaman: 165

Tidak ada komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.