Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

1965: Desain Besar di Balik Prahara




Selama ini, narasi 1965 sering kali disempitkan hanya pada peristiwa satu malam di tanggal 30 September. Buku ini hadir untuk mematahkan penyederhanaan tersebut dengan menyajikan analisis multidimensional yang menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini terpisah.

Penulis mengawali narasi dengan membedah "Segitiga Kekuasaan" yang rapuh antara Soekarno, Angkatan Darat, dan PKI. Dengan menggunakan dokumen deklasifikasi terbaru, buku ini melacak jejak "Metode Jakarta"—sebuah pola intervensi sistematis Amerika Serikat untuk menumbangkan rezim kiri di negara berkembang—dan bagaimana konspirasi global ini bertemu dengan ambisi elit lokal.

Tidak berhenti di tingkat elit, buku ini turun ke akar rumput. Penulis memberikan ruang bagi fakta-fakta lapangan mengenai konflik agraria dan gesekan sosiologis yang memicu ledakan kekerasan horizontal di Jawa dan Bali. Pembaca diajak memahami mengapa kebencian bisa mengakar begitu dalam di antara sesama anak bangsa.

Bagian paling krusial dari buku ini adalah bedah ekonomi politik. Penulis mengungkap peran tim ekonomi "Mafia Berkeley" yang telah menyiapkan "proposal" pembangunan bahkan sebelum stabilitas politik tercapai. Melalui pertemuan rahasia di Jenewa dan penandatanganan kontrak-kontrak strategis seperti Freeport, buku ini membuktikan bahwa 1965 adalah titik balik di mana kedaulatan politik Soekarno dikalahkan oleh logika modal global Orde Baru.

"1965: Desain Besar di Balik Prahara" bukan sekadar buku tentang masa lalu, melainkan sebuah cermin untuk memahami mengapa Indonesia hari ini menjadi seperti sekarang.


Judul: 1965: Desain Besar di Balik Prahara Subjudul: Konspirasi Global, Tragedi Akar Rumput, dan Lahirnya Ekonomi Orde Baru 

Penulis: Sri Endang Susetiawati

Penerbit: Sri Digital Media

Ukuran Buku: A5 (14,8 x 21 Cm)

Terbitan: Febuari 2026

Halaman: 406 halaman

Tidak ada komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.