Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

Bukan Sembarang Topeng

 


Hari masih terlihat pagi. Mentari belum beranjak dari tempat tidurnya. Hawa sejuk masih terasa, sisa dingin yang dibawa rintik hujan semalaman. 

"Mas... coba usaha, jangan terus di rumah," ucap bu Tedjo berusaha membangunkan suaminya yang masih tiduran di kasur.

"Iya nok.....Lah, saiki masih musim Covid 19, jeh," jawab suaminya sambil malas-malasan menggeliat. Tangan kanannya berusaha mengusap-usap kedua matanya.

"Covid sih Covid mas... Tapi, kalau urusan dapur ra kenal Covid, mas..," timpal bu Tedjo lagi.

"Tuh, perhatiin...tetangga sebelah kita. Usahanya maju."


"Iya, tah? Usaha apa, nok? Bokat, bisa ikutan..."

"Hmm.... kudet, sampeyan mas. Ketinggalan info."

"Makanya, jangan tidur mulu di kamar. Cepet cepet keluar, liat-liat dunia luar."


"Topeng... topeng... Bukan sembarang topeng. Ini topeng ajaib. Sim salabim......" Teriakan suara laki-laki terdengar dari luar rumah.

"Ayo... siapa yang hidupnya susah, kepengen langsung bahagia?"

"Yang miskin bisa mendadak jadi kaya!"

"Yang biasa-biasa saja, dijamin bisa menjadi pinter, menjadi keren dalam waktu singkat!"

"Siapa yang minder, kurang percaya diri? Pengen bisa pede dalam waktu cepat?"

"Jur....manjur.... Dijamin manjur serba guna. Ini bukan topeng biasa!" teriaknya lagi.


"Itu siapa sih yang jualan tereak-tereak terus, bikin kuping panas." Suami bu Tedjo mulai terusik. Ia mulai bangun dari tempat tidurnya.

"Mas, mas......itu ya Pak Sapto, tetangga sebelah kita yang baru ngontrak sebulan," balas bu Tedjo.

"Pagi-pagi biasa sudah keluar rumah, mikirin usaha. Gitu loh, mas..."


"Ooh.... Lah, apa hebatnya bisa sukses cuma jualan topeng. Lagian, apa masih ada orang yang suka topeng? Ra percaya aku...,"

"Oalah....kudet maning sampeyan mas...."

"Efek kekenyangan tidur..."

"Apa? Ngece maning?"

"Ora....mas. Ora....."


"Aslie, ya aku juga pengen beli topeng itu. Ibu-ibu di kompleks sini hampir semua sudah beli topeng, mas,"

"Terus...."

"Bapak-bapak juga tidak sedikit yang ikut beli topeng,"

"Terus..."


"Lah, iya... beli pake apa toh? Buat beli beras saja susah,"

"Tidur mulu tidak menghasilkan beras, toh mas...."


"Nok...nok...ga habis habis negece lakie,"

"Ya njaluk ampura, mas. Tapi bukan begitu mas...."

"Wong manusia kan kudu ihtiar, berusaha. Katanya, banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan luru usaha, mas...,"


Bu Tedjo berusaha duduk mendekati suaminya. Sepertinya, ia melihat tanda-tanda suami mulai tertarik.

"Eh... katanya topeng ajaib bisa ngerobah orang susah jadi bahagia, bener ya?"

"Ya bener, mas... Wis terbukti. Sudah banyak orang-orang yang buktiin."

"Kebeneran...kita yang lagi ga punya duit, bisa berubah jadi banyak duit, ya?"

"Betul, mas. Wis terbukti,"


"Topeng itu pasti banyak yang beli. Bakal laku keras!"


Bu Tedjo mulai sering melemparkan senyum. Sesekali matanya memberi tanda kegembiraan. Mengerling. Sementara suaminya tampak manggut-manggut.

"Harganya berapa ya topeng ajaib itu?"

"Murah, mas. Cuma sejutaan. Kalo mau lebih ajaib lagi, ya lebihin harganya. Dua jutaan lebih..."


"Waduh, kalau kita punya sejuta, dua juta kenapa harus beli topeng?"

"Sejuta, dua juta bisa ilang, mas. Tapi kan, khasiat topeng itu sangat manjur toh..."

"Kalo cuma punya uang sejuta, dua juta, tetap saja kita masih hidup susah. Tidak ada perubahan, mas,"


"Ya terus, uangnya dari mana .....?" tanya suami.

"Di belakang masih ada 10 bata tanah kebon warisan, mas... Itu bisa jadi modal. Barangkali, nanti setelah punya topeng bisa kebeli lagi tuh tanah. Malah bisa nambah,"

"Ra setuju, aku!"


Mimik bu Tedjo langsung berubah. Masam. Bujukannya belum membuahkan hasil. 

"Mas... mas... Ngobrol wis ngalor ngidul, ujunge ra setuju..."

"Pusing, aku!" ketusnya, seraya meninggalkan suaminya sendirian.


Suara dari luar rumah terdengar kencang....

"Tolooong...tolooong"

"Ampuun.....bapak ibu... Ampun...."


Bu Tedjo berusaha keluar untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.

"Walah...Pak Sapto dikeroyok ibu-bu bapak-bapak, mas... dikejar-kejar"

"Melas...."


"Sabar....bapak-bapak! Ibu-ibu....Sabar...!" teriak seorang bapak berusaha menenangkan massa.

Ada yang langsung menyergah. Seorang ibu berpakaian necis pakai kaca mata hitam.

"Yeeeee....buruan, Pak Sapto. Mana topengnya?" 

"Iya nih. Sudah nunggu-nunggu lebih dari seminggu. Masa, kita belum juga kebagian...'" timpal massa yang lain.


Pak Sapto merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Ingin meminta maaf.

"Begini ya ibu-ibu...bapak-bapak yang saya hormati," .

"Sebelumnya, saya mohon maaf. Berhubung topeng ini laku keras, sementara kiriman dari luar negeri seret alias terganggu,"


Massa mencemooh. "Huuuuu......!"


Pak Sapto terus berusaha menjelaskan. "Dengan ini saya beritahukan semua bahwa untuk keinginan bapak ibu semua, tidak harus pake topeng." 

"Yang penting ada kuota internet."


"Orang susah, tiba-tiba jadi bahagia. Orang miskin, mendadak bisa jadi kaya. Yang biasa-biasa saja, bisa disulap diri menjadi alim ala ustadz atau pendakwah,"

"Bisa bikin status bagus-bagus, baik-baik, enak-enak. Cling.....Pokoke sim salabim, bisa langsung berubah sesuai yang kita mau,"


"Ibu bapak bisa beli handphone merk lainnya. Bebas. Yang penting bisa gunakan sosmed!." 

"Paham, ibu ibu, bapak bapak semua?"

"Ya...itu sebenarnya, topeng juga, ibu-ibu bapak-bapak. Topeng modern...," 


"Huuuuuuuuu.......!"

"Bubar...bubar....!' teriak massa.

1 komentar:

  1. ceritanya sangat menarik
    nama : irma tri lestari
    kelas : X MIPA 5

    BalasHapus

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.