ANATOMI PENJAJAHAN Membedah Watak Kolonialisme Dari VOC hingga Korporatokrat Modern
SEJARAH ADALAH SEBUAH AUTOPSI, DAN NUSANTARA ADALAH MEJA OPERASINYA.
Selama berabad-abad, kita diajarkan bahwa penjajahan dimulai dari peluru dan berakhir saat bendera Merah Putih berkibar. Namun, benarkah kita sudah benar-benar merdeka?
Dalam naskah monumental setebal 598 halaman ini, Sri Endang Susetiawati membongkar sebuah rahasia kelam: bahwa kolonialisme adalah sebuah organisme yang memiliki daya adaptasi luar biasa. Ia tidak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti baju. Dari ambisi dingin Reinier Pauw di galangan kapal Amsterdam abad ke-17, hingga manipulasi digital para Korporatokrat Modern yang merampok triliunan rupiah melalui celah transfer pricing dan suaka pajak di abad ke-21.
Buku ini membedah "genetika" penindasan yang masih mengalir dalam sel saraf birokrasi dan kebijakan ekonomi kita. Dengan pisau bedah yang tajam dan data yang tak terbantahkan, penulis menelusuri bagaimana:
VOC Klasik berevolusi menjadi VOC Modern yang meruntuhkan kedaulatan dari dalam.
Indonesia dipaksa membayar "biaya kemerdekaannya" sendiri melalui cicilan utang KMB yang baru lunas di era reformasi.
Hilirisasi nikel dan sumber daya alam kita terancam menjadi bentuk "Negara dalam Negara" jika kontrol modal masih digenggam oleh tangan-tangan asing.
Bukan sekadar buku sejarah, ini adalah alarm bagi kedaulatan bangsa. Bersiaplah melihat wajah asli sang penindas—baik yang menggunakan baret hijau di masa lalu, maupun yang mengenakan kerah putih hari ini.
"Kita tidak hanya merdeka lewat perang, kita 'membeli' kedaulatan itu dengan harga yang sangat mahal. Dan hingga hari ini, pendarahannya belum benar-benar berhenti."
Judul: ANATOMI PENJAJAHAN Membedah Watak Kolonialisme Dari VOC hingga Korporatokrat Modern
Penulis: Sri Endang Susetiawati
Ukuran: 17,6 x 25 cm
Halaman: 598
Cover: Hardcover
Kertas: HVS/Bookpaper






Tidak ada komentar
Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).