Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

Teror, Atas Nama Pancasila


Oleh Sri Endang Susetiawati
Jam di dinding, belum juga menunjuk penuh pada angka 10 malam. Saya dan tujuh orang teman aktivis mahasiswi masih saling berbincang di dalam sebuah kamar. Belasan teman-teman aktivis mahasiswa masih terdengar saling mengobrol dan bercanda kian kemari, di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu di sebuah sekretariat organisasi kemahasiswaan di Bandung.
Tiba-tiba suara mobil terdengar, sepertinya baru berhenti di depan sekretariat. Tak lama kemudian, suara ketukan sepatu yang bersahutan dan menghentak membuat gaduh para penghuni sekretariat itu. Suara teriakan pun terdengar lantang dilontarkan oleh sejumlah orang yang sebagian mengenakan pakaian seragam loreng.
“Mana, Ahmad...! Mana, dia !” ucap salah seorang dari puluhan mereka yang ternyata datang tanpa diundang.
“Brugggg.... ! Bruggg.... !” suara tangan dan kaki yang menendang pintu ruangan di sebelah.
“Prekk....!” suara meja yang mendapat giliran dipukul oleh tangan mereka.
Suasana menjadi begitu gaduh dan tegang. Saya dan rekan mahasiswi sangat merasakan sebuah ketakutan.
“Bawa ke sini, siapa itu DALANG ANTI PANCASILA !” teriak salah seorang di antara mereka.
“Siapa yang berani melawan PANCASILA !”
Tampaknya, rekan-rekan mahasiswa lebih banyak terdiam. Hanya sesekali saja terdengar untuk sekedar memberikan penjelasan.
“Maaf, Pak. Ahmad sedang tidak ada di sini”
“Di mana, dia ?”
“Sedang ada di kampus, Pak”
“Bohong !”
“Brugggg...” suara pukulan tangan menghantam meja.
“Cari dia, di dalam kamar-kamar...!”  perintahnya.
Kami kian bertambah ketakutan. Suara ketukan sepatu hitam berseragam makin terasakan, kian mendekat. “Krek....!” suara pintu kami dibuka paksa tanpa permisi.
“Tidak ada, cuma mahasiswi semua....!” kata salah seorang diantara mereka yang mengenakan seragam loreng dengan wajah yang sangat garang.
Pintu pun langsung ditutup lagi dengan tanpa basa-basi, “Krekkk.....!”.
Ya Allah.... baru saja kami telah melewati puncak ketegangan yang sangat menakutkan. Kami pun secara spontan saling berangkulan. Entah, mungkin hanya naluri para perempuan yang hendak meminta perlindungan. Tanpa sadar pula, kami pun menangis sambil tertahan, mengalirkan air mata ketakutan. 
Tak ada yang dapat kami lakukan kecuali mengucapkan kalimat dzikir dan permohonan doa untuk keselamatan kami. “Allahu Akbar...! Ya Allah lindungi kami dan teman-teman kami dari segala kemurkaan mereka” ucapku dalam hati.
Saat itu, saya merasakan waktu berjalan lebih lambat, bahkan sangat lambat. Harapan agar ketakutan itu segera sirna, tampaknya belum juga diperoleh. Justru, kegaduhan oleh teriakan dan bentakan yang saling bersahutan, serta hentakan suara alas kaki yang keras menambah jantung kami kian berdebar.
Sangat jelas, mereka terdengar masuk ke setiap ruangan yang ada untuk mencari seseorang yang dianggapnya DALANG ANTI PANCASILA. Hingga, ke ruang belakang, mungkin memeriksa di bagian ruang bawah, dimana biasa digunakan sebagai ruangan trainning. Selanjutnya, mereka pun menaiki anak tangga, menuju ke ruangan bagian atas, dimana biasa digunakan sebagai tempat sholat.
“Ampun, ya Allah...!” jeritku dalam hati.
Saya lantas teringat kejadian di kampungku. Mungkin, hampir mirip. Ketika para petugas KORAMIL saat itu datang dengan penuh nafsu untuk memburu salah seorang Kyai, yang biasa merangkap sebagai Kepala Madrasah dan menjadi imam sholat. Mereka memburu para tokoh yang dicap sebagai ANTI PANCASILA.
“Mungkinkah, sepatu-sepatu itu juga tidak dibuka saat memasuki tempat sholat ?”
Saya tidak dapat melanjutkan ingatan itu, karena ketakutan begitu sangat menghantui. Nalarpun telah jatuh pada titik terendah, tergulung oleh emosi yang penuh kecemasan yang sangat kuat.
“Prekkk....!” suara sudut meja yang pecah akibat pukulan keras dari tangan salah satu di antara mereka.
“Tolong, dengarkan kalian baik-baik ! Jika sampai besok sore, Ahmad tidak datang ke KODAM, kami akan datangi Sekretariat ini lagi. Bila perlu, akan kami runtuhkan Sekretariat ini sekalian !” bentaknya.
“Ya, Allah....” ucapku lirih, sambil menahan tangis. Kami dengar kata-kata mereka itu dengan sangat jelas sekali. Ketakutan kian bertambah memuncak. Dua orang di antara kami, ada yang telah tergolek lemah hampir pingsan. Secara spontan, di antara kami langsung memberikan pertolongan. Sungguh sangat haru dalam balutan ketakutan.
Hingga beberapa saat kemudian, secara perlahan rasa ketakutan itu berhasil kami atasi. Secara berangsur, kami merasakan suasana normal kembali. Mungkin, setelah rombongan personil militer itu telah keluar untuk kembali ke markasnya.
“Alhamdulillah.....” ucap kami hampir bersamaan.
Klaim atas nama PANCASILA telah meneror kami. Semoga, tidak akan terulang lagi..... ***

Demikian, terima kasih
Salam Persahabatan
Srie

Catatan : Kisah ini terinspirasi oleh cerita nyata dari para senior aktivis mahasiswa tentang suasana saat peristiwa di sekitar pro dan kontra pemberlakuan PANCASILA sebagai asas tunggal (ASTUNG), pada zaman Orde Baru (ORBA), sekitar tahun 1984-1985. Nama yang terdapat dalam kisah ini, murni hanya hasil rekaan belaka.

Tidak ada komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.